Beranda » Blog » Kisah Kakek Pedagang Cermin yang Akhirnya Bisa Tunaikan Umrah

Seorang kakek bernama Dalih tak kehilangan semangat untuk bekerja di usia senja. Ia menjalani keseharian sebagai pedagang cermin di depan sebuah rumah makan yang berada tepat di samping Stasiun Kranji, Bekasi, Jawa Barat.

Setelah tidak lagi bekerja sebagai tukang mebel, pria berusia 76 tahun ini memilih mencari rezeki dengan berdagang cermin berbentuk kotak yang ia lapisi dengan lakban dan kayu sebagai pegangannya.

Dalih saat ini hidup bersama anak-anaknya. Sang istrinya telah meninggal dunia pada 2017 karena kecelakaan. Ia juga masih memerlukan biaya untuk memenuhi kebutuhan delapan anak dan cucunya di rumah.

Pria yang akrab disapa ‘Aki Kaca’ oleh warga sekitarnya ini setiap sore menggelar dagangan. Dalih menjual cermin seharga Rp5 ribu hingga Rp10 ribu, mulai dari ukuran kecil hingga ukuran sedang.

Di balik perjuangan sebagai pedagang cermin, terselip kisah manis nan inspiratif. Lewat berdagang cermin, ia akhirnya dapat menunaikan umrah. Tak pernah terlintas di benaknya pergi umrah seorang diri tanpa ditemani sang istri. Namun, dirinya tetap bersyukur dengan segala nikmat yang telah diperoleh.

“Saya mengumpulkan uang hasil berdagang ini setiap hari. Alhamdulillah setelah saya kumpulkan sedikit-sedikit, saya bisa umrah tahun kemarin sekitar bulan Oktober. Walaupun sebenarnya saya menyuruh istri untuk umrah lebih dahulu,” kata Dalih, Jumat, 26 Juli 2019. umroh, umroh murah

Wajah lelaki kelahiran 1943 itu menunjukkan ia tidak menyangka dapat pergi umrah. Momen umrah juga menjadi kali pertamanya Dalih merasakan naik pesawat.

Dalih telah berjualan cermin sejak 2002 dan selalu bersemangat untuk menjual cermin setiap hari. Dalih tidak pernah sedikit pun mengeluh akan rasa lelah, bahkan saat hujan ia tetap bekerja.

“Saya tidak pernah libur berdagang karena harus memenuhi kebutuhan anak-anak saya, ada yang sudah di PHK jadi sebisa mungkin saya membantu,” ujar Dalih.

Setiap pagi Dalih bergegas untuk membuat pegangan kaca yang terbuat dari kayu. Setelah selesai ia baru berangkat berjualan dari rumahnya menggunakan sepeda di daerah Pulo Gebang, Jakarta Timur menuju Kranji. Ia berjualan dari pukul 17.00 hingga pukul 21.00 WIB.

Pria yang menggunakan alat bantu pendengaran ini sangat bersyukur setiap hari masih kuat untuk mengayuh sepeda sederhananya. Menurutnya, setiap pekerjaan harus disyukuri dan ia juga berpesan untuk anak-anak muda untuk terus semangat bekerja.

“Jangan sampai putus asa, itu tidak boleh. Kita harus berusaha mencoba dahulu, jangan sampai jadi anak muda yang malas. Carilah ilmu sebanyak-banyaknya karena ilmu tidak hanya didapatkan di bangku sekolah,”

# Bagikan informasi ini kepada teman atau kerabat Anda

Belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi.

Komentar Anda* Nama Anda* Email Anda* Website Anda

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.