Beranda » Blog » Lebih Baik Tidak Menggunakan Pil Pencegah Haid Selama Haji

Dengan berbagai pertimbangan baik medis dan syariat, kami lebih berpendapat agar jamaah haji wanita muslimah selama 30 hari atau lebih beribadah haji, sebaiknya tidak menggunakan pil pencegah haid dengan beberapa pertimbangan:

  1.  Pil pencegah haid memiliki beberapa efek samping yang berbeda-beda bagi setiap wanita. Bisa saja efek samping ini malah menimbulkan sakit selama ibadah misalnya nyeri di payudara, rasa mual sakit kepala, sehingga ini bisa menghalangi kekhusyukan ibadah.
  2. Berdasarkan pengalaman, karena ibadah haji cukup menyedot energi dan stamina sehingga terkadang tubuh tidak stabil. Terkadang pil pencegah haid juga bisa menyebabkan haid menjadi tidak teratur. Ada beberapa yang muncul pendarahan kecil terus, ada juga yang tidak dapat haid tetapi muncul flek-flek darah atau kehitaman yang sering membuat jamaah wanita bingung, apakah ini darah haid atau bukan. Berbeda jika minum pil pencegah haid dengan keadaan tubuh yang prima, sehat serta tidak menanggung beban pekerjaan atau aktifitas yang berat.
  3. Wanita yang haid masih bisa melakukan semua ibadah haji kecuali tawaf saja. Sehingga tetap bisa ikut beribadah bersama rombongan. Sebagaimana hadits ‘Aisyah yang mendapatkan haid ketika haji, maka Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar melakukan semua manasik haji kecuali tawaf. Beliau bersabda,

    هَذَا شَيْءٌ كَتَبَهُ اللهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ، افْعَلِي مَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِي بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِي

    Ini adalah sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah pada anak-anak wanita Adam. Lakukanlah apa yang dilakukan seorang yang haji selain thawaf di Ka’bah sampai engkau suci.
    Yang menjadi pertimbangan mereka menggunakan pil pencegah haid adalah khawatir tidak bisa melakukan rukun haji yang utama yaitu tawaf ifadhah. Akan tetapi ini sudah dijelaskan ulama, bahwa bagi wanita yang sedang haid, bisa melakukana tawaf ifadhah di hari tasyrik bahkan ada ulama yang membolehkan sampai akhir bulan dzulhijjah (seperti kita ketahui, jamaah haji tidak langsung balik ke tanah air, akan tetapi tetap tinggal dahulu di Mekkah atau Madinah selama bulan Dzulhijjah, ini bisa digunakan bagi wanita yang haid dan tidak sempat tawaf ifadhah untuk melakukannya. Dan jika memang tidak bisa sama sekali, harus kembali ke tanah air. Maka ini adalah ketetapan Allah, haji tetap sah karena ada udzur syar’i.
    Ada juga pendapat ulama yang menyatakan bahwa wanita haid yang tidak mungkin kembali lagi ke Ka’bah untuk tawah ifadhah, ia diperbolehkan melakukan tawaf ifadhah dalam keadaan haid sebelum kembali ke negerinya.
    Begitu juga penjelasan seorang ulama Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, bahwa haid adalah ketetapan dari Allah bagi wanita dan menerimanya lebih lapang serta lebih menerima takdir. Beliau berkata,
    Saya tidak menyarankan (ingat, bukan mengharamkan, pent) para wanita menggunakan obat semacam ini (pil pencegah haid), untuk membantunya melakukan ketaatan kepada Allah. Karena darah haid yang keluar, merupakan sesuatu yang Allah tetapkan pada kaum Hawa.
    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menemui ‘Aisyah di kemahnya ketika haji wada’. Ketika itu, A’isyah telah melakukan ihram untuk umrah, namun tiba-tiba datang haid sebelum sampai ke Mekah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui A’isyah, sementara dia sedang menangis. Sang suami yang baik bertanya, “Apa yang menyebabkan kamu menangis?” A’isyah menjawab bahwa dia sedang sakit. Nabi menasehatkan, “Ini adalah keadaan yang telah Allah tetapkan untuk kaum Hawa4

  4. Jika wanita muslimah yang mendapat haid merasa kurang maksimal dalam ibadah, maka perlu diketahui bahwa seorang muslim yang sudah biasa dan memang berniat melakukan suatu ibadah, kemudian tiba-tiba berhalangan, maka pahalanya tetap ditulis baginya.
    Pendapat terkuat bahwa mereka tetap mendapat pahala sebagaimana mereka hari-hari biasa mereka ketika tidak haid, asalkan mereka melakukan ibadah tersebut rutin dalam keseharian mereka. Inilah yang terkandung dalam hadits,

    إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

    Jika salah seorang sakit atau bersafar, maka ia dicatat mendapat pahala seperti ketika ia dalam keadaan mukim (tidak bersafar) atau ketika sehat.
    Karena wanita haid termasuk sakit, yaitu sakit yang ringan. Maka mereka tetap mendapat pahala sebagaimana ketika sehat.

  5. Masih banyak amal ibadah lainnya yang bisa dilakukan oleh wanita haid/ jadi jangan kita mengira wanita haid tidak bisa beribadah sama sekali. Ibadah tersebut diantaranya:
    1. Membaca Al-Quran dengan tidak menyentuh mushaf atau bisa memakai Al-Quran terjemah atau pakai aplikasi smartphone
    2. Berdzikir
    3. Istighfar
    4. Berdoa. Karena berdoa adalah ibadah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

      الدعاء هو العبادة

      Doa adalah inti ibadah”

# Bagikan informasi ini kepada teman atau kerabat Anda

Belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi.

Komentar Anda* Nama Anda* Email Anda* Website Anda

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.